KAMBING HITAM

Malam ini, seorang perempuan tengah bersujud di dalam kamarnya yang hanya diterangi beberapa cahaya lilin. Ia bersujud sangat lama di atas sebuah pentagram yang terbuat dari darahnya sendiri. Di hadapannya, berdiri sesosok pria kekar dengan rambut keriting panjang sampai pinggang dan kulit berwarna merah.

"Angkat wajahmu, manusia." Suara pria misterius itu mendesis dan terdengar seperti desahan. "Kau telah mengundangku dengan darahmu sendiri. Apa keinginanmu?"

Perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya. Ia masih muda, mungkin berusia awal 20 tahunan. Matanya yang berair itu menatap sosok pria kekar di hadapannya. Sementara bibirnya gemetar, seolah tak kuasa untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan.

"Saya.. saya minta tolong..."

Si pria tetap bergeming. Matanya yang berkilat kuning tak berkedip menatap wanita di depannya.

"Saya.. minta tolong.." ulang perempuan muda itu, "tolong yang mulia.. beri saya sesuatu.. untuk bisa menghancurkan dia."

"Siapa dia?"

"Namanya Andini. Dia itu wanita jalang yang telah merebut laki-laki yang saya cintai."

Pria itu tertawa. Suaranya terdengar seperti desahan yang berat.

"Jadi karena manusia lain hidupmu jadi kelam? Bagus! Sepertinya kau punya peluang untuk menjadi bagian dari kami."

"Saya memang ingin jadi setan, yang mulia. Saya sudah bosan hidup seperti ini terus. Lebih baik saya jadi jahat daripada jadi baik tapi selalu disakiti dan dikucilkan."

"Manusia, aku punya sesuatu untukmu, tapi ada satu syarat yang harus kau jalani setelah kau membalas wanita itu."

"Apa itu, yang mulia?"

Si pria kekar menyeringai. Kilat di matanya kuning membara.

***

Saat ini sudah hampir pukul sebelas malam, tapi Andini masih belum tidur. Ia hanya berbaring di ranjangnya sambil mengobrol dengan seseorang lewat telepon. Lampu kamar sudah ia matikan. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari lampu samping rumah yang menerobos melalui jendela kaca.

"Kau benar-benar telah melupakannya, kan," tanya wanita itu. "Aku hanya tidak ingin menjalani hubungan dengan seseorang yang masih mengingat masa lalunya."

Andini tersenyum-senyum dan kadang tertawa kecil berbicara dengan kekasihnya itu. Sampai akhirnya, ia terdiam kaku menatap sesuatu yang tampak melalui jendelanya.

Dari jendela, tampak siluet yang tak begitu jelas bentuknya. Bentuk itu seperti kepala binatang dengan dua tanduk besar yang melengkung. Sosok itu seperti sedang mengamati Andini dari luar rumah.

Perlahan, Andini melangkah ke arah jendela. Ia ingin melihat hewan apa yang malam-malam begini ada di pekarangan rumahnya.

Tiba-tiba, makhluk itu menerjang masuk melalui jendela kaca. Andini berteriak. Tanpa sadar, ia menjatuhkan smartphone-nya. Panik, wanita itu langsung berlari ke arah pintu. Ia langsung keluar dan menjauh dari makhluk yang sudah ada di dalam kamarnya itu.

"Ayah!!!"

Andini berlari di lorong rumahnya. Dari situ, ia bisa mendengar suara-suara dari dalam kamarnya. Andini terus berlari sampai ke lantai dua menuju ke kamar orang tuanya.

"Yah! Buka pintu!"

Tak lama, sang ayah membuka pintu. Andini langsung masuk dan mengunci pintunya.

"Kenapa, din? Ada apa!?"

Andini masih kesulitan untuk bicara. Ia terduduk di samping ranjang. Ibunya pun bangun dan saling bertatap dengan suaminya.

"Dini, ada apa!?" Sang ayah kembali bertanya sambil memegang kedua pipi anaknya itu.

"Ada.. ada yang masuk ke kamar Dini," bisik Andini sembari tangannya menunjuk ke arah pintu.

"Apa yang masuk?" Ibunya ikut meminta penjelasan.

Meski demikian, si anak hanya menangis.

Menyadari bahwa Andini benar-benar telah melihat sesuatu yang tak biasa di kamarnya, sang ayah mengambil sebuah stik golf yang selalu ia letakkan di samping lemari kamarnya. Dengan posisi siap pukul, ia melangkah ke arah pintu. Namun, ia tak segera membukanya, melainkan menempelkan telinganya di pintu itu.

Ia tak mendengar suara apapun. Hening.

Akhirnya, ia memutar kunci kamar dan membuka pintu di depannya. Kepalanya melongok ke luar ruangan. Ia tidak melihat apapun selain suasana yang temaram di lorong itu.

"Din, sini!" Bisiknya.

Andini berjalan pelan mendekati sang ayah.

"Kunci pintunya dari dalam. Agar kalau ada apa-apa, kalian bisa aman."

"Bagaimana dengan ayah?" Tanyanya dengan suara yang bergetar.

"Itu gampang nanti. Yang penting, kau dan ibumu aman dulu."

Setelah itu, sang ayah melanjutkan langkahnya ke arah kamar Andini di lantai satu. Dari kejauhan, terdengar suara kamarnya dikunci.

Laki-laki itu mulai menuruni tangga untuk menuju lantai satu. Ia sengaja tidak menyalakan lampu utama agar tidak memancing perhatian.

Namun, baru beberapa langkah ia menuruni anak tangga, dari keremangan terlihat sesuatu yang besar perlahan naik melalui tangga itu. Sang ayah mundur. Tubuh langsung menggigil. Bahkan, stik golf yang ada dalam genggamannya seperti hendak jatuh.

Dengan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, laki-laki itu kembali naik. Setelah sampai di lantai dua, ia tidak menuju ke kamarnya, melainkan ke ruang keluarga. Sesampainya di sana, ia mengambil sebuah senapan yang terpajang di dinding. Segera ia menuju ke lemari lemari kecil di sudut ruangan untuk mengambil beberapa peluru.

Baru saja ia memasukkan peluru itu ke dalam senapannya, makhluk itu muncul dari balik tembok. Dari ruang tengah yang tak jauh dari tangga itu, sang ayah bisa melihat jelas bagaimana wujud sebenarnya dari sosok itu.

"Dutch.. Dutch Landrace..." batinnya terpana.

Sosok itu memang cukup mirip dengan kambing jenis Dutch Landrace yang pernah ia lihat ketika berlibur di belanda. Namun, makhluk yang tengah ia saksikan ini memiliki tubuh yang lebih besar seperti bison, rambut yang lebih lebat, dan hitam seluruhnya. Bahkan, dua tanduk besar yang seperti huruf 'T' itu juga hitam legam.

Makhluk itu terus melangkah ke arah kamar sang ayah. Melihat hal ini, laki-laki itu langsung maju dengan posisi membidik siap tembak. Meski sudah kepala lima, tapi kemampuan berburunya masih ada. Kedua tangannya masih bisa ia gunakan untuk membidik dengan stabil.

"Bagaimana mungkin kambing sepertimu bisa sampai ke sini? Mungkin ini rejeki bagi kami," ujar sang ayah lantang. Setelah melihat wujudnya, ia jadi tak begitu takut lagi dan justru ingin menyembelihnya untuk digulai.

Namun, perasaan itu segera berubah ketika si makhluk menoleh ke arahnya, menunjukkan sorot mata berwarna kuning tanpa pupil. Sudah jelas bahwa kambing itu tidak seperti Dutch Landrace yang ia kenal, sang ayah langsung menembaknya.

Peluru itu tepat mengenai dada si kambing, tapi makhluk itu tetap melangkah maju.

Panik, laki-laki itu mencoba mengisi senapannya. Namun, makhluk yang ia hadapi seketika berlari dan menyeruduknya. Sang ayah terpental ke belakang. Tubuhnya menghantam televisi 50 inchi kesayangannya.

Kambing misterius itu mendekati laki-laki yang sudah tak berdaya di lantai. Orang itu terbatuk dan dari mulutnya keluar darah. Ia mencoba membalikkan tubuhnya di lantai, ingin melihat dengan jelas apa yang sebenarnya tengah ia hadapi.

"Tolong... jangan..."

Lalu, kambing hitam itu membuka mulutnya di depan mata sang ayah, seakan ingin melahap kepalanya.

Benar. Seketika makhluk itu menggigit kepala korbannya. Namun, ia tidak memakannya. Hanya meremukkan kepala orang itu dengan satu kali gigitan.

Darah membasahi rambut-rambut rahangnya. Tak menunggu lama, kambing itu meninggalkan jasad yang sudah tak bernyawa. Perlahan, ia melangkah menuju ke kamar yang terkunci rapat itu untuk menyelesaikan tugas utamanya.

***

Perempuan itu masih berada di dalam kamarnya. Ia menatap rembulan dari jendela kamarnya. Pria kekar tadi sudah kembali ke alamnya. Ia berkata, jika kambing itu sudah kembali membawa kepala Andini, ia akan mengambil nyawa orang tua perempuan itu.

Tiba-tiba ia tersenyum lebar di bawah cahaya rembulan. "Aku akan menyimpan kepalamu, jalang."

Sementara itu, Andini dan ibunya sama-sama terduduk di lantai kamar tanpa ada yang berani bergerak. Pandangan mereka tertuju ke satu arah, yaitu kambing hitam yang sudah berdiri di depan mereka. Di lantai belakang makhluk itu, pintu kamar yang terbuat dari kayu jati hancur menjadi beberapa bagian.

"Din..." bisik sang ibu, "lari. Lari."

Akan tetapi, bagaimana seorang gadis seperti Andini bisa lari ketika kambing hitam itu mulai melangkah mendekatinya. Matanya yang berwarna kuning tanpa pupil dan rahangnya yang memerah bekas darah sang ayah. Andini merasa tak berdaya.

"Hey, kambing brengsek!"

Andini menoleh. Ia melihat ibunya itu berlari ke meja rias di dekatnya dan melempari si makhluk dengan benda-benda yang ia simpan di meja itu peralatan makeup dan perhiasan yang ia miliki. Kambing hitam yang dari tadi hanya diam, langsung menerjang wanita itu. Dua kaki depannya menghantam tubuh sang ibu, membuatnya terhantam ke dinding belakang.

"Bu!!!" Jerit Andini.

Dalam keadaan tak berdaya dan muntah darah seperti suaminya, wanita itu masih berjuang untuk menatap anak gadisnya itu.

"Lari.. lari Din..."

Andini benar-benar tak bisa berpikir apa-apa saat ini. Ia langsung berlari ke luar kamar. Ketika perhatian kambing setan itu teralih ke sasaran utamanya, sang ibu berteriak lagi.

"Hey..! Aku di sini!"

Dengan susah payah, wanita itu merangkak mendekati si kambing untuk merebut kembali perhatiannya.

Sementara itu, Andini langsung turun ke lantai satu. Ia terus berlari ke arah pintu depan. Namun, pintu terkunci. Ia melihat kumpulan kunci tergantung di samping pintu dan mengambilnya. Akan tetapi, dengan kepanikan seperti itu, ia lupa yang mana kunci pintu depan.

Tiba-tiba, ada benda yang menggelinding di sampingnya.

Kepala sang ibu.

Andini menjerit dan terduduk. Tanpa sengaja, ia melihat kambing hitam sudah berdiri di depan tangga ke lantai dua, menatapnya dengan tajam.

Andini tak tahu lagi harus bagaimana. Akhirnya, ia hanya bisa menjerit minta tolong. Ia tak tahu apakah akan ada yang mendengar teriakannya. Kedua orang tuanya sengaja membangun rumah yang cukup jauh dari tetangga agar tidak ada yang mengganggu mereka. Tanpa mereka sadari, keputusan tersebut menjadi bumerang bagi keluarga itu.

***

Lamunan perempuan itu lenyap ketika dari sudut matanya, ia melihat sesuatu yang sebelumnya tak ada di sana. Seekor kambing hitam dengan mata kuning berkilat. Meski melihatnya saja sudah membuat tubuh perempuan itu menggigil, tapi ada satu hal yang membuatnya senang.

"Kau benar-benar mendapatkannya..."

Menggunakan mulutnya, kambing itu meletakkan sebuah benda yang sangat diharapkan oleh si perempuan. Kepala Andini.

Dengan langkah yang gemetar, perempuan itu mendekati kepala wanita jalang yang telah merebut kekasihnya. Awalnya, ia menyentuh benda menjijikkan itu, tapi akhirnya ia berani mengangkatnya. Wajah Andini yang menderita itu ada di hadapannya, ada di dalam genggamannya. Si perempuan tersenyum.

Merasa tugasnya sudah selesai, kambing hitam itu melangkah pergi. Ia menuju ke sudut kamar yang penuh dengan kegelapan dan menghilang. Sekarang, perempuan itu tinggal menunggu kabar kematian orang tuanya sendiri.

***