WABAH (Bagian 1)

Sudah lima hari ia mengurungku di ruangan ini. Aku tak tahu apa yang ia inginkan. Kami baru pertama kali bertemu. Saat aku melangkah untuk pulang ke rumah, ada mobil yang berhenti di dekatku dan ia pun turun. Setelah itu, sepertinya ia melakukan sesuatu padaku, seperti menusukkan sesuatu di leherku. Setelah itu, aku tak ingat apapun dan ketika aku kembali membuka mata, aku sudah berada di ruangan ini, tanpa makan, tanpa minum, tanpa ponselku.

Segala cara sudah kucoba, mulai dari berteriak sekeras mungkin sampai mencoba membuka pintu di depanku itu, tapi sia-sia. Aku hanya membuang waktu dengan menguras tenaga yang tinggal sedikit ini.

Ruangan ini hanya memiliki satu bohlam kecil yang tergantung di langit-langit. Warnanya yang kuning redup membuat suasana menjadi remang-remang. Dari luasnya, sepertinya aku bisa menyimpulkan bahwa ini adalah gudang di sebuah rumah. Warga di desaku memang banyak yang memiliki gudang dengan ukuran seperti ruangan ini. Namun, ada satu yang aneh. Ruangan ini kosong melompong.

Tak ada apapun di sini selain diriku. Selama tiga hari, aku tidur di lantai plester yang dingin dan berdebu. Dinding-dindingnya hanya terbuat dari bata yang belum dilapisi semen tanpa lubang atau jendela. Sehingga, satu-satunya jalanku untuk bisa keluar dari sini adalah melalui pintu yang terkunci rapat itu.

Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu. Tak lama, daunnya terbuka dan memperlihatkan sesosok pria yang berdiri di baliknya. Ia berusia 40 tahunan dan berkaca mata. Senyuman manis dan roman ramah terpancar dari wajahnya.

Dia adalah orang yang kutemui waktu itu.

Ketika pandanganku menurun, aku melihat ia membawa sebuah keranjang berbentuk kotak di tangan kanannya. Dari balik celah keranjang besi itu, aku bisa melihat sesuatu yang bergerak-gerak.

"Kau masih hidup, kan?"

Suaranya sangat tenang dan bersahabat, seperti seorang motivator di acara-acara televisi itu. Meski demikian, ia tetaplah sosok yang bertanggung jawab mengurungku di sini selama lima hari.

Ia melangkah masuk dan meletakkan keranjang besi itu di lantai. Aku tak bisa melihat dengan jelas makhluk apa yang ada di dalamnya, tapi gerakannya aneh dan tak wajar. Si pria itu sendiri mengunci pintu dari dalam. Setelah itu, ia mendekat dan jongkok di depanku yang tengah duduk bersandar di dinding.

"Bagaimana kabarmu? Seharusnya kau sudah melemah, sekarang karena kekurangan gizi dan cairan. Menurut perhitunganku, lima hari sudah cukup untuk membuatmu tak bisa melakukan perlawanan yang berarti," ujarnya.

"Apa maksudnya ini," tanyaku dengan suara yang tak bertenaga.

"Oh, perkenalkan, namaku Stefano Aleksander. Aku hanya seorang manusia yang seharusnya bisa mendapat gelar doktor tahun lalu. Oh, aku adalah kimiawan, aku mempelajari biokimia."

"Apa mau bapak?"

"Aku adalah orang yang sangat menyukai hal baru dan sudah lama aku ingin menciptakan hal yang baru. Akan tetapi, mereka sepertinya takut padaku dan menendangku dari tempat itu. Jadi, aku lanjutkan saja rencana ini dari rumah..."

"Tolong jangan sakiti saya."

"Oh, aku tidak akan menyakitimu, setidaknya tidak secara langsung. Aku hanya ingin menguji senyawa ciptaanku yang kusebut dengan Lyssa Omega. Kau ingin tahu apa itu? Well, inilah dia!"

Ia bangkit dan melangkah ke pintu. Alek mengambil keranjang itu, lalu membawanya ke hadapanku. Kali ini, aku bisa melihat dengan cukup jelas makhluk apa yang ada di dalamnya. Seekor kelinci besar.

"Aku telah menguji senyawa buatanku kepada hewan pertama, yaitu tikus. Ternyata, hasilnya seperti harapanku. Setelah itu, aku membeli kelinci ini dan menaruhnya dalam satu kandang dengan tikus itu. Ternyata, dugaanku tepat. Kelinci ini tertular melalui gigitan tikus itu."

Aku masih tak tahu apa yang terjadi. Namun, aku bisa memastikan bahwa sekarang ini, aku melihat tubuh si kelinci bergetar dan ada air yang keluar dari mulutnya.

"Artinya, tikus tadi telah membagikan senyawa yang ada di tubuhnya ke kelinci ini. Aku jadi penasaran, apakah ia bisa memberikan hal itu padamu."

"Saya mohon, pak..." Aku memberanikan diri merangkak mendekatinya dan memeluk lengannya. "Saya ingin pulang, pak. Jangan sakiti saya, saya mohon."

Ia membelai rambutku saat diriku tengah terisak.

"Maaf, kau tidak boleh pulang. Aku harus memastikan bahwa proyek rahasiaku ini bisa berhasil. Aku harus berhasil dan kau harus membantuku. Bukankah membantu orang adalah hal yang terpuji? Jadilah gadis yang baik."

Tak ada jalan lain. Akhirnya, aku berlari menuju pintu dan berusaha untuk membukanya. Namun, sama seperti hari-hari sebelumnya, aku tidak punya kuasa apapun untuk membukanya.

"Percuma, sayang. Kau Kuncinya ada padaku. Melakukan hal yang sia-sia hanya akan membuatmu semakin lemas."

Pria itu menarik tubuhku hingga tersungkur. Namun, ia segera berjongkok lagi.

"Kau benar-benar ingin keluar dari sini, kan? Kau rindu keluargamu, kan?"

Aku hanya bisa mengangguk-angguk lemah sambil menangis.

"Baiklah, aku punya ide. Aku akan melepasmu, tapi kau harus bunuh kelinci itu."

Aku menatapnya, mencoba mencerna maksud perkataannya.

"Kau dengar aku? Buka kandangnya, lalu bunuh kelinci itu dengan tanganmu sendiri. Jika sudah, kau boleh keluar. Aku janji."

Dengan rasa yang bercampuraduk, aku melirik makhluk yang ada di dalam kandang itu. Jika dengan membunuhnya aku bisa keluar, maka akan aku lakukan, tapi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kelinci itu.

"Bapak janji..."

"Aku janji! Sudah jangan buang waktu lagi! Buka kandangnya, biarkan ia keluar, dan bunuh dia! Cepat! Aku mau lihat!"

Dengan mengumpulkan keberanianku, aku kembali ke kandang itu dan berlutut. Tubuh kelinci itu bergetar. Mulutnya menganga menatapku. Liur dari mulutnya keluar membasahi lantai di bawah kandang.

"Come on.. do it.. do it.." bisikan Alek terdengar dari pintu. Ketika aku meliriknya, kedua tangannya mengepal di depan dadanya, seperti seseorang yang tengah menyaksikan pertandingan sepak bola yang seru.

Akhirnya, aku mengabaikan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhku. Kedua tangan dinginku membuka tutup kandang. Aku langsung bangkit dan melangkah mundur.

"Tunggu sampai dia keluar. Setelah itu, bunuh dia.. kalau kau bisa."

Ketika aku menoleh untuk menanyakan maksud dari kata-katanya barusan, Alek telah keluar dan mengunci pintu.

"Pak! Tolong!"

Aku berlari ke pintu yang telah kembali terkunci itu.

"Pak! Saya tidak mau seperti ini! Tolong, pak! Saya mohon!"

Meski demikian, tak ada tanggapan darinya. Banjir air mata yang kualami saat ini seakan tak mampu menembus sanubarinya.

Setelah itu, aku mendengar suara.

Perlahan, aku melirik ke belakang. Dari sudut mataku, kelinci besar berwarna putih itu telah keluar dari kandang. Ia seperti tengah sekarat, tapi kepalanya aktif mencari-cari sesuatu.

Aku semakin menggigil tatkala mata besarnya menatapku dari kejauhan. Mulutnya yang dari tadi telah terbuka, kini makin lebar dan ia mengangkat wajahnya ke atas. Ia seperti seekor singa yang sedang mengaum.

Tiba-tiba ia melompat-lompat ke arahku. Gerakannya cepat. Spontan aku berteriak dan berlari menjauh, tapi ia terus memburuku.

Aku berlari mengelilingi ruangan. Kelinci itu terus mengejar meski aku lebih cepat darinya. Namun, dengan ruangan yang tak begitu lebar seperti ini, aku hanya bisa terus bergerak untuk tetap menjauh darinya.

Tapi, apakah yang kulakukan ini akan membawa perubahan?

Jantungku berdegub kencang. Napasku memburu. Tubuh yang sudah lemas memaksaku untuk bersandar di salah satu dinding gudang. Aku harus mencari cara untuk bisa membunuh makhluk itu.

Tepat di depan kakiku, kelinci itu berhenti. Ia kembali membuka mulutnya lebar dan liur mengalir ke lantai. Setelah itu, ia terjatuh ke samping. Tubuhnya kejang-kejang seperti mau mati. Ia meronta dan berguling, seakan jika ia bisa memilih, ia ingin ada yang mengakhiri penderitaannya saat ini juga.

Akhirnya, tanpa pikir panjang aku mendekat dan mulai menginjaknya. Kukumpulkan semua sisa tenaga yang kumiliki untuk mengakhiri penderitaannya. Namun, aku tetaplah manusia yang punya rasa. Dalam kondisi jiwa seperti kesetanan ini, aku memohon pada Tuhan untuk mengampuniku.

Tiba-tiba ia menggigitku. Aku menjerit. Ia bahkan menggunakan keempat kakinya untuk mencengkeram kakiku. Gigi kecilnya terus menggigiti kulitku yang tak berdaya. Aku terduduk merasakan sakit. Kedua tanganku mencoba melepasnya, tapi cengkeramannya begitu kuat.

Aku meraung ketika merasakan sakit di jariku. Ia menggigit telunjukku dan terus menempel tanpa pernah mau pergi. Dalam situasi ini, keputusasaan mulai menyeruak dari dalam hati. Aku tak berdaya untuk membunuh makhluk ini. Bahkan, untuk sekadar melepaskannya dariku saja aku tak sanggup.

Saat semua perasaan bergejolak, aku berteriak sekeras-kerasnya. Aku tak tahu harus dengan cara apa aku mengungkapkan semua ini. Aku hanya seorang gadis kampung yang baru pulang dari rumah teman. Aku juga tidak pernah mengenal Aleksander. Akan tetapi, kenapa semua ini terjadi padaku?

***

Kenapa aku seperti ini? Baru semalam aku mengalaminya, tapi pagi ini, jika aku tidak salah dalam menerka waktu, aku seperti bukan diriku lagi.

"Kau ingin bebas, kan? Aku akan membebaskanmu hari ini juga."

Alek yang mengenakan pakaian seperti jas hujan dan berhelm itu membuka pintu gudang lebar-lebar. Seperti seorang penolong, ia membawaku dengan penuh kasih sayang keluar dari ruangan ini. Kami melewati ruang demi ruang dalam rumahnya. Entah kenapa aku tak mencoba untuk menyerangnya, mungkin karena pikiranku saat ini sedang kacau. Tubuhku menggigil dan aku merasa sangat bingung karena ada banyak hal yang ingin kulakukan. Namun, aku tetap ingin mempertahankan jiwa manusiaku.

Akhirnya, kami keluar rumah. Aku tak tahu ini dimana. Kami seperti ada di tengah hutan. Rumahnya seperti ada di tengah hutan.

"Kau boleh pergi. Sampaikan salamku kepada orang-orang di kampung."

Alek pun meninggalkanku begitu saja di depan rumahnya. Ia masuk ke dalam dan mengunci pintu.

Setelah itu, sesuatu terjadi pada tubuhku. Aku merasa sangat bergairah, tapi juga merasakan amarah. Pikiranku semakin kacau. Bahkan, aku mulai lupa bagaimana caranya bicara. Aku ingin pulang, tapi aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tersungkur. Tubuhku terasa dingin, kaku, dan sulit kukendalikan. Sensasi ini begitu mengerikan, karena membuatku tak lagi mengenal siapa diriku sebelumnya. Apalagi, setelah kutahu bahwa daguku basah karena liur yang sering menetes.

Tiba-tiba, ada yang bergerak di semak-semak tak jauh di depanku. Beberapa saat kemudian, terlihat seekor kucing hutan yang tengah bermain dengan sesuatu. Entah kenapa saat melihatnya, aku tak mampu menahan amarahku. Binatang itu begitu menyebalkan. Aku ingin membunuhnya. Aku ingin mencabik-cabiknya sampai ia meregang nyawa.

Akhirnya, aku berusaha untuk berdiri. Kedua kakiku terasa lemah, tapi aku masih bisa berdiri. Namun, tubuhku sesekali bergetar karena mencoba untuk tetap tenang merasakan apa yang mengalir di dalam darahku ini.

Perlahan, aku mulai melangkah. Ternyata, aku tidak bisa berjalan normal, melainkan seperti orang yang mabuk atau orang yang sangat putus asa. Namun, aku tak peduli lagi. Keinginanku hanya satu, mencabut nyawa kucing itu dengan tubuhku sendiri.

***